Merenung Makna Cinta
>> Sunday, May 3, 2009
"Tuhan mendengarkan doa-doa orang-orang yang minta dijauhkan dari dari kebencian. Tapi Dia menulikan diri dari orang-orang yang hendak melarikan diri dari cinta"
(Paulo Coelho, Gunung Kelima, Jakarta :Gramedia, 2005. hal 125)
"Dunia akan menjadi suatu kenyataan saat orang belajar mengenal arti cinta, cinta adalah kekuatan yang takkan pernah ditundukan. kalau kita berusaha mengendalikannya, maka cinta akan menghacurkan kita. kalau kita berusaha mengurungnya, cinta akan memperbudak kita. kalau kita berusaha memahaminya, cinta akan meninggalkan kita dalam kebingungan"
(Paulo Coelho, The Zahir, Jakarta:Gramedia, 2006.Hal 125)
"Cinta itu mirip bendungan: jika kau membiarkan satu celah kecil yang hanya bisa dirembesi sepercik air, percikan itu akan meruntuhkan seluruh bendungan, dan tak lama kemudian tak seorangpun bisa mengendalikan kekuatan arusnya.
Setelah bendungan itu runtuh, cinta pun mengambil kendali, dan apa yang mungkin atau pun tidak, tidak lagi berarti bahkan bukan masalah apakah orang yang kita cintai itu tetap berada di sisi kita atau tidak, mencintai berarti kehilangan kendali"
(Paulo Coelho, Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk Dan Menangis, Jakarta: Gramedia,2005.Hal 49)
(Paulo Coelho, Gunung Kelima, Jakarta :Gramedia, 2005. hal 125)
"Dunia akan menjadi suatu kenyataan saat orang belajar mengenal arti cinta, cinta adalah kekuatan yang takkan pernah ditundukan. kalau kita berusaha mengendalikannya, maka cinta akan menghacurkan kita. kalau kita berusaha mengurungnya, cinta akan memperbudak kita. kalau kita berusaha memahaminya, cinta akan meninggalkan kita dalam kebingungan"
(Paulo Coelho, The Zahir
"Cinta selalu baru. tidak perduli kita pernah jatuh cinta satu, dua ataukah lusinan kali dalam kehidupan kita. kita selalu menghadapi situasi yang sama sekali baru. Meskipun dapat membawa kita ke Neraka maupun Surga, cinta selalu membawa kita ke suatu tempat. kita hanya perlu menerimanya, karena cintalah yang memelihara keberadaan kita. Jika kita menolak cinta, kita akan mati kelaparan, karena kita tidak lagi memiliki keberanian untuk mengulurkan tangan dan memetik buah-buah dari dahan kehidupan. Kita harus menyambut cinta dimanapun kita menemukannya, meskipun itu berarti berjam-jam, berhari-hari bahkan berminggu-minggu kekecewaan dan kegetiran"
(Paulo Coelho, Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk Dan Menangis. Hal 93)
"Aku tahu mulai saat ini akau akan merasakan Surga dan Neraka, kebahagiaan dan kegetiran, impian dan ketidakberdayaan; akau takkan dapat lagi menahankan angin yang bertiup dari relung-relung jiwaku yang tersembunyi. Aku tahu mulai saat ini cintalah yang akan memanduku, dan sejak aku merasakan cinta untuk pertama kalinya saat aku kanak-kanak dulu, cinta telah menunggu untuk membimbingku. dan nyatanya aku tidak pernah melupakan cinta, bahkan ketika cinta menganggap aku tak layak berjuang untuk mendapatkannya"
(Paulo Coelho, Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk Dan Menangis. Hal 97)





0 komentar:
Post a Comment